Senin, 12 April 2010

PostHeaderIcon ketika siluet sudah tenggelam


bukan maksud untuk berpuisi atau merangkai kata- kata puitis, tapi hanya ingin mengajak para pembaca untuk berinspirasi lewat siluet senja, pernahkah kita berpikir bahwa imajinasi dan logika mempunyai perbedaan yang signifikan? ketika kita berkhayal dan terlintas suatu bayangan entah itu cerita atau gambaran seseorang mungkin secara tidak langsung diri sudah terbawa dalam lamunan yang abstrak, biarkan itu terjadi dan rasakanlah imajinasi membuat seseorang mempunyai ciri khas dalam mengadapi problem terhadap kehidupan. ada satu kasus yang membuat saya berpikir dan terhanyut dalam sebuah cerita seorang wanita singuinis ketika dirinya dalam keadaan rapuh saat di tinggal seorang ayah yang sangat di cintainya, seorang ayah satu -satunya yang memberikan dia inspirasi, kemudian dia berdiri pada sore hari di rumah pegunungan di saat siluet terlihat lagi indah-indanhnya memancarkan cahaya kuning dengan beberapa menit dia merasakan sesuatu yang takjub, ketika melihat awan dan menghirup udara yang dia rasakan lalu tanpa sadar dia berkata dengan lamunan yang terus membayangkan problem kehidupannya " Cukup sampai disini saya berpikir takut! Tuhan tidak bertanya pada seseorang mengapa saya harus hadir di dunia ini?cobaan hidup adalah sunnatullah dan pasti ada jalan keluar, Tuhan tau itu.."
Minggu, 04 April 2010

PostHeaderIcon Dalam Hening Tak ada Gemuruh




Judul : Siluet Senja

Penulis : Hafidz341 & Ria (H&R)
Seri : Buku Remaja
Halaman : 202 halaman
Jenis : Produk Remaja
Ukuran : 11,5x17,5 cm (Standar Remaja)
Tahun Terbit : 2004/02
Penerbit : Gema Insani Pess

Baca novel emang bisa jadi alternatif pilihan di waktu senggang. Apalagi waktu kita lagi mumet bin penat. Cocok banget. Selain bahasanya yang ringan, jalan ceritanya juga lumayan bikin rileks. Makanya, pas banget kalo kamu baca novel remaja dari GIP ini.

“Siluet Senja”, itulah judul novel remaja yang baru beredar di pasaran awal Mei ini. Asli novel, bukan kumpulan cerpen. Tiap bab-nya sahut-menyahut dan sambung-menyambung menjadi satu itulah siluet senja. (kok jadi nyanyi sih?) Dengan gaya bahasa ringan, kedua penulis mampu menampilkan kehidupan remaja yang ngocol, sentimentil, solidaritas, sampe curhat. Puisi dan ilustrasi aja ampe nggak mau ketinggalan disetiap bab-nya.

Novel ini mengisahkan tentang persahabatan Meta, Dewi, Anjani, dan Jane yang sekolah di salah satu SMU swasta di kota Hujan. Tingkah polah Dewi yang venus, Anjani yang Tomboy, atau Jane gadis muslim Import dari London mewarnai setiap cerita bersama Meta yang menjadi tokoh sentral.

Cerita makin menarik dengan kehadiran Steve, kakak Jane. Cowok bule, ganteng, doyan ngocol, walau agak sentimentil (nah lho?) asal Glasgow yang nerusin pendidikannya di Indonesia. Berdasarkan kaidah “witing trisno jalaran soko kulino” dimulailah petualangan cinta remaja yang melibatkan Meta dan Steve.

Karena cinta, Jane jadi sewot ama meta. Karena cinta, meta kudu sembunyi-sembunyi biar nggak ketauan satpam, eh temen-temennya pas lagi lunch bareng Steve. Karena cinta, Steve terjerumus ke dunia ‘putih’. Karena cinta juga Meta dihadapkan pada dua pilihan, kepada siapa dia harus memberikan cintanya. Manusia ataukah sang Pencipta? Pilihan yang sering kita rasakan seperti bias, samar, dengan batas tak jelas. Tapi pasti ada satu sisi yang hakiki. Layaknya sebuah siluet senja di sore hari…

Mengenai Saya

Foto Saya
selain suka menulis saya juga pecinta kucing, makanya saya punya nick name yang elakang nya push..

ngobrol yuk disini..


ShoutMix chat widget

My YM

Loading...

My inspiration

Seorang pemikir negatif melihat kesulitan dalam setiap kesempatan, Seorang pemikir positif melihat kesempatan dalam setiap kesulitan,